Budaya orientasi siswa

Sebagian besar memori kenangan indah yang tertinggal di kepala saya semenjak sekolah dari sd hingga kuliah s1 di Indonesia salah satunya adalah kegiatan orientasi. Ketika baru menjadi siswa baru hingga setiap berpartisipasi di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, selalu diawali dengan yang namanya kegiatan orientasi, yang durasi-nya berbeda-beda. Dari beberapa hari, hingga berbulan-bulan, satu semester atau setahun pertama awal masuk.

Saking mendarah dagingnya budaya tersebut yang selalu ada dimanapun saya berada dan beraktifitas, saya menganggap biasa dan jarang mikir jika ada yang aneh, sehingga saya sekolah di Perancis. Tentunya hal yang terasa pertama kali adalah perbedaannya. Berhubung disini gak ada yang namanya orientasi, ataupun tujuan pengenalan lingkungan dan sistem dilaksanakan dengan cara yang berbeda.

Masalahnya, setelah dipikir-pikir, seluruh kegiatan orientasi yang saya ikuti sejak smp sampai kuliah itu lumayan banyak memakan waktu, sehingga mau gak mau saya jadi kepikiran apa yah yang saya dapat, manfaat dan perubahaan untuk diri saya. Bukan hanya memakan waktu yang banyak, tapi letih fisik, batin dan pikiran juga, jadi membuat saya berpikir apa ya tujuannya. Manfaat terbesar yang terlihat dengan jelas buat saya adalah cepat berkenalan dan dekat dengan teman-teman seangkatan. Tapi, that’s it?

Terlebih lagi, beberapa kegiatan drama tekanan senioritas, acara bentak-bentakan ditambah latihan fisik yang sulit saya temukan arahan dan tujuannya apa. Mungkin masa orientasi ketika kuliah agak lebih *dewasa* dibanding ketika sekolah, tapi ini tidak terjadi di setiap kampus sehingga efek buruk tidak dapat dihindari jika kegiatan ini tidak dilaksanakan semestinya. Jadi merasa sebal sendiri karena ketika saya sibuk berdiri berjam-jam, push up, jalan jongkok, dll selama berbulan-bulan setiap tiga tahun sekali ditambah tugas-tugas ekstra orientasi, di belahan dunia lain siswa-siswa seperti saya sedang sibuk mengerjakan project, training, berdiskusi, brainstorming dan berbagai macam kegiatan produktif lainnya.

Berhubung di Perancis gak ada yang namanya sistem orientasi, tapi siswa-siswanya sudah punya ketahanan mental dan fisik, disiplin, aware dengan sistem, mampu berpikir mandiri untuk mengambil keputusan dan berkarakter sesuai level pendidikan tanpa perlu ikut kegiatan orientasi. Mungkin juga, karena gak bisa disamakan dengan orang Indonesia, kita perlu dong diorientasi supaya punya karakter seperti itu. Tapi sejujurnya, saya gak merasa mendapatkan efek-efek tersebut setelah diorientasi. Contohnya saya suka ngaret, tapi setelah dilatih kedisiplinan oleh puluhan kegiatan orientasi tetep aja ngaret. *hihihi

Beri saya pencerahan😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s