Belajar bahasa dari rumah

Saya sebenernya hobi sekali nyobain berbagai macam tools yang tersedia di dunia maya untuk belajar bahasa. Kayaknya sih ada puluhan website dan apps yang udah saya cobain untuk belajar macem-macem bahasa. Sekarang sih sebenernya lagi belajar bahasa Jepang, tapi belajar bahasa yang lain juga membantu banget kalau kita rajin dan konsisten review dengan sumber yang tersedia di internet. Buat saya, beberapa web dan apps berikut sangat membantu perkembangan belajar bahasa khususnya yang autodidak sendiri di rumah:

Lang-8
Ini website favorit saya untuk latihan menulis atau bikin essay kecil-kecilan. Di sini kita bisa publish tulisan kita yang nantinya akan dikoreksi tiap kalimatnya oleh para native. Kita juga bisa mengoreksi essay  yang dibuat oleh orang lain dalam bahasa Indonesia. Ini manfaat banget terutama buat latihan untuk persiapan ujian sehingga kita bisa bikin essay dan dapet koreksi gratisan dari native langsung. Nih ada contoh tulisan cupu Jepang saya yang dikoreksi.

Lang-8

Memrise
Kalau web yang ini lebih asik lagi khususnya bagi para pemalas yang tetep ingin belajar kayak saya. Seperti main game, kita bisa memilih paket-paket vocabulary untuk dihapalkan dan kemudian di test melalui permainan dalam waktu tertentu yang akan menampilkan skor kita, lulus atau tidaknya. Web ini menggunakan pola belajar short-term memory lalu kemudian long-term memory. Setelah kita berhasil menghapalkan beberapa kata, dalam beberapa jam atau hari kemudian, dia akan mengingatkan kita untuk kembali mengetest apa yang udah kita pelajari. Selain itu, kita juga bisa membuat paket kumpulan kata-kata kita sendiri. Bahkan buat kita yang belajar bahasa mengikuti buku cetak tertentu, udah banyak banget paket-paket vocabulary yang tersedia di memrise untuk mereview dan membantu kita untuk menghapal kata-kata per chapter yang sesuai di buku tertentu.

Italki
Buat yang sedikit punya modal, kita bisa tetep ikutan les privat dari rumah melalui Italki ini. Intinya web ini menghubungkan para guru profesional dan informal yang menawarkan kursus via skype, murid-murid yang mencari guru serta orang-orang yang ingin mencari partner untuk language exchange. Setiap sesi kursus berakhir, kita bisa memberikan feedback satu sama lain secara publik sekaligus memberikan informasi kepada orang-orang yang mencari guru. Continue reading

Catatan bekerja di Prancis[4] – Sophia Antipolis

Setelah 3 tahun bekerja di Caen hampir sepanjang tahun ditemani hujan, angin dan tanpa matahari akhirnya berkesempatan pindah kerja juga ke selatan Perancis, Sophia Antipolis, sebuah pusat teknologinya Prancis yang terletak di bagian selatan Prancis dekat Nice, yang alhamdulillah jauh lebih sering didatangi matahari.

Sophia Antipolis ini dijuluki sebagai Sillicon Valley-nya Prancis dibangun sejak tahun 1970, hingga sekarang ada lebih dari 1200 perusahaan dan institut penelitian yang berkumpul disini sehingga banyak sekali lowongan kerja khususnya di bidang teknologi dan komputer. Perbedaan yang sangat terasa dibandingkan ketika dahulu bekerja di daerah utara Prancis adalah tingkat kemajemukan penduduk dan multikulturalitasnya. Di perusahaan tempat gw bekerja misalnya, pegawainya lebih dari 20 negara sehingga bahasa resmi di kantor pun berbahasa Inggris. Orang Italia juga banyak banget, di kantor pun jadinya sering terdengar bahasa-bahasa asing lain berseliweran mulai dari bahasa Cina, Spanyol, Italia, Hindi, Rumania, dll.

Kekurangannya, di technopole ini hanya ada perusahaan dan institusi saja, jarang ada tempat-tempat hiburan, tempat belanja pun cuma satu sehingga mau gak mau sebagian pegawai, peneliti atau pelajar di Sophia Antipolis ini memilih untuk commuting dan tinggal di kota lain seperti Nice, Antibes atau Cannes. Dari Antibes atau Cannes perjalanan ke Sophia memakan sekitar 40 menit dengan bus sementara dari Nice sekitar 1 jam. Kekurangan yang lain tentunya karena terletak di Côte d’azur atau French Riviera yang diiringi pantai Mediterania Prancis, didatangi oleh orang-orang super kaya dari mana-mana sampai-sampai George Clooney pun punya vila super mewah di Monaco menyebabkan biaya hidup daerah ini juga ikut-ikutan mahal.

Voluntir di Kunimi-en Jepang

Ceritanya tahun ini saya memutuskan untuk tidak pulang ke negeri tercinta Indonesiaku karena *ehem* sebagian alasan personal dan di sisi lain ingin mencoba hal baru. Bekerja di dunia IT dan telko walau cukup seru terlebih lagi beberapa saat lalu ganti project yang jauh lebih menyenangkan menantang bersama tim dan kolega-kolega yang kompeten serta menawan. Ahey.

Jadilah September kemarin saya berpartisipasi di program voluntir dan kebetulan diterima di institusi social welfare di Jepang. Walau tak lama hanya 2 minggu saja, namun bertemu dengan berbagai macam orang, liburan juga belajar bahasa dan belajar sedikit mengenai sistem social welfare di Jepang cukup memberikan angin segar dari keseharian saya yang biasanya bergaul dengan benda elektronik saja huks. P1240254

Adalah Kunimi-En, sekolah dan rumah untuk orang-orang dengan keterbelakangan mental mulai dari 25-75 tahun, mulai dari autism, down syndrome, dan lainnya yang terletak di pinggir kota Kofu di prefektur Yamanashi. Sebenarnya Kunimi-En sendiri lebih bertujuan untuk mengenalkan program welfare di Jepang dengan segala aktivitasnya. Makanya saya dan seorang voluntir lain dari Taiwan lebih diperlakukan sebagai tamu ketimbang pekerja voluntir; diinapkan di hotel tradisional ala Jepang “ryokan”, diantar jemput setiap hari dari ryokan menuju Kunimi-En, m20140902_203734_HDRakan dimasakin pegawai Kunimi-en dan merekapun sangat hati-hati dengan makanan yang disajikan kepada saya yang tanpa babi dan alkohol aduhay senangnya. Direktur Kunimi-en pun meluangkan sehari waktunya untuk mengantar kami berjalan-jalan ke kuil setempat, bermain di klub olahraga tradisional Jepang, dan sekitarnya. Continue reading

Catatan bekerja di Prancis[3] – Tentang Cuti

Adalah cuti, dimana negara-negara eropa terkenal memiliki cuti digaji yang paling banyak dibandingkan negara-negara lain di seluruh dunia, berkisar antara 20 sampai 30 hari per tahun. Di Perancis sendiri, 25 hari cuti digaji atau congés payés yang dijamin oleh pemerintah.

Ada lagi yang namanya RTT atau Réduction du temps de travail, berupa pengurangan waktu kerja, yang dipraktikkan oleh negara-negara Eropa (seperti Amerika utara) sejak pertengahan abad 19. Sejarah pengurangan waktu kerja ini rupanya berkisah sejak akhir abad 19 yang merupakan hasil perjuangan pergerakan para buruh pada masa revolusi industri dan reformasi demokrasi sosial, juga berkat perkembangan alat-alat industri yang memungkinkan para buruh menghasilkan produk lebih banyak dengan jumlah kerja yang sama. RTT ini diberikan tergantung oleh perusahaan, jadi tak wajib. Jadi kalau di Perancis ini, jumlah jam kerja legal sejak tahun 2000 yaitu 35 jam per minggu. Perusahaan punya 2 pilihan: membatasi jumlah jam kerja para pegawainya maksimum 35 jam per minggu, atau menaikkan jumlah kerja > 35 jam dengan syarat memberikan jatah RTT atau bisa juga dengan memberikan duit lembur. Jumah RTT ini bervariasi sekali. Di perusahaan gw, 8 hari /tahun. Namun ada perusahaan yang memberikan RTT 20 hari / tahun.

Enak betul ya jatah cuti bisa dari 30 – 45 hari per tahun sudah kayak anak sekolahan saja. Orang Perancis sendiri sangat hobi merencanakan kalendernya jauh-jauh hari kalau perlu untuk setahun ke depan. Makanya mereka aneh sekali lihat orang seperti gw yang bisa tiba-tiba minta cuti buat hari esok, atau merencanakan liburan ke luar negeri seminggu sebelumnya, dll. Pada dasarnya asosiasi ketenaga-kerjaan di Perancis ini sedemikian kuatnya sehingga para bos pun tak berhak melarang kita-kita mengambil cuti walau terkadang musti tahu diri. Gak lagi-lagi deh minta cuti sehari sebelum😀.

Google it yourself, please! -mari bertanya kritis

Ada satu attitude yang akan sangat bermanfaat sekali ketika kita berada di luar negeri khususnya negara maju yang individualis. Tentunya akan sangat baik sekali kalau kita-kita yang berencana kuliah di luar Indonesia bisa mengadopsi mental agar istilahnya gak sedikit-sedikit minta disuapin dan bertanya secara kritis.

Bertanya secara kritis disini merupakan bertanya ketika kita sudah mencari dan membaca seluruh informasi yang sebenernya sangat gampang sekali kalo kita mau googling sebentar saja. Pertanyaan-pertanyaan dasar seperti cara pendaftaran, biaya ini itu, sistem pendidikan, cari universitas, dll sebenernya jawabannya sudah ada dimana-dimana, dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang sebetulnya gak perlu ditanyakan.

Teman-teman yang sudah di luar negeri sih sebenernya tidak keberatan untuk membantu adik-adik yang butuh bantuan atau klarifikasi, membimbing kalau ragu dengan beberapa pilihan untuk tahu mana yang lebih tepat sesuai yang sebenernya dicari. Disinilah kita sama-sama belajar untuk membedakan mana yang layak ditanyakan atau tidak. Ini juga itung-itung latihan beradaptasi dengan orang-orang di negara maju yang pastinya jauh lebih merasa *annoyed dengan orang-orang yang malas googling dan sedikit-sedikit minta dikasihtau ehehe.

Yuk ah jadikan bertanya sebagai senjata terakhir setelah research sebanyak-banyaknya!

Egalité di Prancis

Egalité atau kesetaraan adalah salah satu motto yang diusung bangsa Perancis semenjak Revolusi Perancis. Perjuangan bangsa Perancis untuk menerapkan konsep egalité ini dalam berbagai macam aspek kehidupan mulai dari pendidikan, keluarga, pekerjaan, hak-hak sosial dan politik pun sudah dimulai sedikit demi sedikit sejak 1836. Boleeh yuk ngintip tanggal-tanggal pentingnya disinih.

Dari 3 motto Liberté, Egalité dan Fraternité, memang konsep egalité lah yang paling saya rasakan dalam berkehidupan di Perancis. Errr mungkin liberté juga sih, secara disini setiap orang bebas melakukan apapun yang dia inginkan tanpa mengganggu pihak lain, tapi saya kebetulan kurang bisa mempraktikkan ke-liberté-an selevel bule-bule Perancis disini.

Sebenarnya yang ingin saya bahas disini adalah egalité dalam kehidupan bersosialisasi dan pergaulan antar sesama di Perancis. Sebagai orang Asia tentunya kita secara tak sadar sering terbawa beberapa etiket dan tata krama dalam berhubungan sosial. Misalnya dengan orang yang lebih tua, atasan dalam bekerja ataupun senior. Hubungan yang hirarkis, sehingga sopan santun dan tata krama menyesuaikan tergantung situasi dan atribut lawan bicara.

Di Perancis (mungkin di sebagian besar negara-negara di Eropa) tidak seperti itu, kultur sosial-demokratis sangat kental dan orang Perancis sangat mementingkan logical reason yang valid dalam segala aspek sehingga mereka tidak terlalu mementingkan atribut atau status sosial lawan bicara selama justifikasi perilaku atau keputusan kita masuk diakal. Siap-siap rajin berdebat dan menganalisa deh sampai bisa bilang j’ai raison, Monsieur .. Mau itu engineer muda di kantor, supir taksi, pak satpam kalau memang mereka benar dan punya argumen yang valid, masing-masin bebas bertindak dan gak perlu sungkan terhadap hirarki.

Kapan se vouvoyer kapan se tutoyer?

Di Perancis ada yang namanya << se vouvoyer >> atau << se tutoyer >> merupakan kata ganti orang kedua (kamu, anda, …) -> (vous …, tu …) yang dipakai pada saat yang berbeda dalam bahasa Perancis. Vouvoiement atau se vouvoyer memang diperuntukkan untuk orang-orang harus kita beri respek lebih seperti yang tidak kita kenal, orang yang jauh lebih tua dan senior misalnya. Namun orang-orang Perancis masa kini makin lama makin santai sehingga asal sudah merasa dekat atau sok dekat dan gak terlalu mementingkan politesse kita bisa enak ber tutoiement atau se tutoyer. Contohnya di lingkungan kerja, walaupun dengan bos-bos berbeda posisi atau jauh lebih tua, kalau sudah bekerja bareng kita bisa langsung santai ber se tutoyer. Gw sendiri sekarang hanya ber vouvoyer dengan orang yang gw kenal di jalan untuk nanya sesuatu ehehe.

Université atau Grande école ?

Postingan ini dibuat untuk menjawab beberapa pertanyaan belakangan ini yang gw terima di email, untuk berbagi secara garis besar perbedaan antara Université atau Grande école, 2 sistem pendidikan yang berbeda untuk jenjang kuliah. Gw sendiri kuliah di Grande école, jadi testimoni mengenai perkuliahan di Université gw dapetin dari pengalaman temen-temen lain.

Secara umum saja yah menurut gw,

Grand école

  • lebih terfokus untuk membekali mahasiswanya dengan skill-skill di dunia kerja, kurikulum lebih praktis ketimbang teoritis
  • jurusan jauh lebih spesialis
  • punya hubungan dan networking yang kuat dengan perusahaan-perusahaan/sektor industri
  • lebih bergengsi di Perancis *katanya
  • pastinya jauh lebih mahal

Université

  • lebih teoritis, khususnya pada 3 tahun pertama (tingkat Licence)
  • tapi gak menutup kemungkinan adanya kurikulum profesional di Université
  • lebih murah *jauuh
  • lebih fokus ke riset/penelitian, walaupun riset di Grande école juga sudah mulai ditekankan

Peluang kerja setelah lulus?

Terus, gimana sih peluang kerja setelah lulus? Berdasarkan pengalaman pribadi dan yang gw lihat, memang lulusan Grande école lebih mudah mendapat tawaran kerja di industri dibandingkan lulusan Université. Karena kurikulum Grande école lebih menekankan ke proyek riset atau industri yang sesuai dengan kebutuhan terkini perusahaan-perusahaan, serta pelajar yang berhasil masuk Grande école lebih selektif, sampai saat ini perusahaan-perusahaan di Perancis melihat lulusan Grande école lebih mumpuni dalam skill praktis. Dari pengalaman puluhan wawancara yang gw lewati, secara garis besar ada 3 pertimbangan HR dalam menyeleksi: Continue reading