Cari kampus untuk studi di Prancis

Banyak sekali pertanyaan yang masuk melalui komentar di post blog saya maupun lewat email, seperti …

bagaimana seleksi masuk jurusan kedokteran di Prancis selepas SMA, kampus mana yang bagus untuk jurusan hukum, desain interior, dsb.. 

yang sebenarnya agak salah jurusan jika ditanyakan kepada saya, namun saya juga paham karena tidak ada arahan yang jelas untuk menemukan informasi yang tepat.

Berhubung dahulu saya s2 ke Prancis lewat jalur nplusi , jaringan Universitas dan Grand Ecole di bidang engineering telah tersedia dan pendaftaran ke sekolah-sekolah teknik terpusat disini.

Kebetulan adik saya yang paling kecil sedang dalam proses mendaftar untuk melanjutkan S2 di Prancis, sehingga saya tahu kesulitan mendapatkan informasi yang tepat.

Seperti kebanyakan orang, adik saya menggunakan portail CampusFrance untuk mendaftar ke beberapa universitas di Prancis. Untuk bisa menggunakan portail ini, biaya yang dibayarkan sebesar 2,5 juta rupiah. Tahun ini, maksimal kampus yang bisa di apply hanya 7 aplikasi – padahal sih di brosur bilangnya 15 kampus yaaa….

CF

Dari pengalaman kebanyakan orang, bahkan CampusFrance juga bukan tempat yang tepat untuk bertanya secara detail mengenai spesialisasi kampus untuk berbagai jurusan, peluang kerja sesuai jurusan, dll. Beberapa kenalan yang mendaftar kampus via CampusFrance juga persentasi yang ditrima tidak terlalu besar alias banyak yang ditolak. Yang mendaftar langsung ke universitas yang dituju malah kesempatan ditrima jauh lebih besar sehingga kebanyakan teman-teman disini lebih menyarankan untuk mendaftar langsung ke universitas yang dituju. Saya rekomen banget website ini untuk menemukan kampus sesuai jurusan yang diminati :

http://www.letudiant.fr/etudes.html

http://cataloguelm.campusfrance.org/master/#/catalog

Advertisements

Catatan Bekerja di Prancis[5] – Seputar mencari kerja

Ada 3 cara mencari kerja di Prancis, kalau bisa saya kategorikan.

Yang pertama, lewat situs-situs pencari kerja. Kalau di Indo bisa dibayangkan seperti Jobstreet. Nah kalau di Prancis terdapat Monster.fr, Apec.fr juga pole-emploi.fr. Sistemnya mirip seperti Jobstreet, kita meng-upload CV kita yang bisa kita set apa mau diakses secara publik agar bisa dilihat oleh rekruiter perusahaan-perusahaan yang sedang mencari kandidat, atau secara privat ketika kita sudah mendapat pekerjaan. Kita akan dikontak langsung oleh perusahaan yang tertarik mengundang kita menjalani proses rekrutmen.

Kedua, cara klasik dengan langsung memasukkan aplikasi ke perusahaan. Kita bisa apply lowongan spesifik yang telah terbuka, ataupun bisa apply candidature spontanée yaitu secara spontan jika tidak ada lowongan yang sesuai dengan latar belakang pengalaman kita.

Terakhir, cara yang jarang diketahui orang adalah melalui program cooptation atau yang dikenal kalau di Indo dengan istilah referral. Melalui kenalan yang sudah bekerja di perusahaan yang dituju, kita bisa menitipkan CV kita untuk disampaikan ke tim HR perusahaannya. Tidak ada yang dirugikan sama sekali dengan program cooptation ini, karena jika orang yang direkomendasikan berhasil mendapatkan offer dan bekerja di tempat tujuan, si kenalan yang merekomendasikan akan menerima bonus yang biasanya sekitar 1000-2000€. Bahkan di perusahaan tempat saya bekerja, suka diberi hadiah berupa MacBook, iPod ataupun gadget lainnya jika banyak merekomendasikan CV. Ditambah lagi dengan Linkedin, saya sarankan juga jangan takut untuk mengirim pesan kepada orang-orang tertentu yang role nya sesuai dengan latar belakang studi atau pengalaman kerja kita dan bertanya jika dia bersedia meng-coopté kita. Apalagi untuk mahasiswa yang baru lulus dan gak terlalu memiliki banyak kenalan yang sudah bekerja di prusahaan.

Belajar bahasa dari rumah

Saya sebenernya hobi sekali nyobain berbagai macam tools yang tersedia di dunia maya untuk belajar bahasa. Kayaknya sih ada puluhan website dan apps yang udah saya cobain untuk belajar macem-macem bahasa. Sekarang sih sebenernya lagi belajar bahasa Jepang, tapi belajar bahasa yang lain juga membantu banget kalau kita rajin dan konsisten review dengan sumber yang tersedia di internet. Buat saya, beberapa web dan apps berikut sangat membantu perkembangan belajar bahasa khususnya yang autodidak sendiri di rumah:

Lang-8
Ini website favorit saya untuk latihan menulis atau bikin essay kecil-kecilan. Di sini kita bisa publish tulisan kita yang nantinya akan dikoreksi tiap kalimatnya oleh para native. Kita juga bisa mengoreksi essay  yang dibuat oleh orang lain dalam bahasa Indonesia. Ini manfaat banget terutama buat latihan untuk persiapan ujian sehingga kita bisa bikin essay dan dapet koreksi gratisan dari native langsung. Nih ada contoh tulisan cupu Jepang saya yang dikoreksi.

Lang-8

Memrise
Kalau web yang ini lebih asik lagi khususnya bagi para pemalas yang tetep ingin belajar kayak saya. Seperti main game, kita bisa memilih paket-paket vocabulary untuk dihapalkan dan kemudian di test melalui permainan dalam waktu tertentu yang akan menampilkan skor kita, lulus atau tidaknya. Web ini menggunakan pola belajar short-term memory lalu kemudian long-term memory. Setelah kita berhasil menghapalkan beberapa kata, dalam beberapa jam atau hari kemudian, dia akan mengingatkan kita untuk kembali mengetest apa yang udah kita pelajari. Selain itu, kita juga bisa membuat paket kumpulan kata-kata kita sendiri. Bahkan buat kita yang belajar bahasa mengikuti buku cetak tertentu, udah banyak banget paket-paket vocabulary yang tersedia di memrise untuk mereview dan membantu kita untuk menghapal kata-kata per chapter yang sesuai di buku tertentu.

Italki
Buat yang sedikit punya modal, kita bisa tetep ikutan les privat dari rumah melalui Italki ini. Intinya web ini menghubungkan para guru profesional dan informal yang menawarkan kursus via skype, murid-murid yang mencari guru serta orang-orang yang ingin mencari partner untuk language exchange. Setiap sesi kursus berakhir, kita bisa memberikan feedback satu sama lain secara publik sekaligus memberikan informasi kepada orang-orang yang mencari guru. Continue reading

Catatan bekerja di Prancis[4] – Sophia Antipolis

Setelah 3 tahun bekerja di Caen hampir sepanjang tahun ditemani hujan, angin dan tanpa matahari akhirnya berkesempatan pindah kerja juga ke selatan Perancis, Sophia Antipolis, sebuah pusat teknologinya Prancis yang terletak di bagian selatan Prancis dekat Nice, yang alhamdulillah jauh lebih sering didatangi matahari.

Sophia Antipolis ini dijuluki sebagai Sillicon Valley-nya Prancis dibangun sejak tahun 1970, hingga sekarang ada lebih dari 1200 perusahaan dan institut penelitian yang berkumpul disini sehingga banyak sekali lowongan kerja khususnya di bidang teknologi dan komputer. Perbedaan yang sangat terasa dibandingkan ketika dahulu bekerja di daerah utara Prancis adalah tingkat kemajemukan penduduk dan multikulturalitasnya. Di perusahaan tempat gw bekerja misalnya, pegawainya lebih dari 20 negara sehingga bahasa resmi di kantor pun berbahasa Inggris. Orang Italia juga banyak banget, di kantor pun jadinya sering terdengar bahasa-bahasa asing lain berseliweran mulai dari bahasa Cina, Spanyol, Italia, Hindi, Rumania, dll.

Kekurangannya, di technopole ini hanya ada perusahaan dan institusi saja, jarang ada tempat-tempat hiburan, tempat belanja pun cuma satu sehingga mau gak mau sebagian pegawai, peneliti atau pelajar di Sophia Antipolis ini memilih untuk commuting dan tinggal di kota lain seperti Nice, Antibes atau Cannes. Dari Antibes atau Cannes perjalanan ke Sophia memakan sekitar 40 menit dengan bus sementara dari Nice sekitar 1 jam. Kekurangan yang lain tentunya karena terletak di Côte d’azur atau French Riviera yang diiringi pantai Mediterania Prancis, didatangi oleh orang-orang super kaya dari mana-mana sampai-sampai George Clooney pun punya vila super mewah di Monaco menyebabkan biaya hidup daerah ini juga ikut-ikutan mahal.

Voluntir di Kunimi-en Jepang

Ceritanya tahun ini saya memutuskan untuk tidak pulang ke negeri tercinta Indonesiaku karena *ehem* sebagian alasan personal dan di sisi lain ingin mencoba hal baru. Bekerja di dunia IT dan telko walau cukup seru terlebih lagi beberapa saat lalu ganti project yang jauh lebih menyenangkan menantang bersama tim dan kolega-kolega yang kompeten serta menawan. Ahey.

Jadilah September kemarin saya berpartisipasi di program voluntir dan kebetulan diterima di institusi social welfare di Jepang. Walau tak lama hanya 2 minggu saja, namun bertemu dengan berbagai macam orang, liburan juga belajar bahasa dan belajar sedikit mengenai sistem social welfare di Jepang cukup memberikan angin segar dari keseharian saya yang biasanya bergaul dengan benda elektronik saja huks. P1240254

Adalah Kunimi-En, sekolah dan rumah untuk orang-orang dengan keterbelakangan mental mulai dari 25-75 tahun, mulai dari autism, down syndrome, dan lainnya yang terletak di pinggir kota Kofu di prefektur Yamanashi. Sebenarnya Kunimi-En sendiri lebih bertujuan untuk mengenalkan program welfare di Jepang dengan segala aktivitasnya. Makanya saya dan seorang voluntir lain dari Taiwan lebih diperlakukan sebagai tamu ketimbang pekerja voluntir; diinapkan di hotel tradisional ala Jepang “ryokan”, diantar jemput setiap hari dari ryokan menuju Kunimi-En, m20140902_203734_HDRakan dimasakin pegawai Kunimi-en dan merekapun sangat hati-hati dengan makanan yang disajikan kepada saya yang tanpa babi dan alkohol aduhay senangnya. Direktur Kunimi-en pun meluangkan sehari waktunya untuk mengantar kami berjalan-jalan ke kuil setempat, bermain di klub olahraga tradisional Jepang, dan sekitarnya. Continue reading

Catatan bekerja di Prancis[3] – Tentang Cuti

Adalah cuti, dimana negara-negara eropa terkenal memiliki cuti digaji yang paling banyak dibandingkan negara-negara lain di seluruh dunia, berkisar antara 20 sampai 30 hari per tahun. Di Perancis sendiri, 25 hari cuti digaji atau congés payés yang dijamin oleh pemerintah.

Ada lagi yang namanya RTT atau Réduction du temps de travail, berupa pengurangan waktu kerja, yang dipraktikkan oleh negara-negara Eropa (seperti Amerika utara) sejak pertengahan abad 19. Sejarah pengurangan waktu kerja ini rupanya berkisah sejak akhir abad 19 yang merupakan hasil perjuangan pergerakan para buruh pada masa revolusi industri dan reformasi demokrasi sosial, juga berkat perkembangan alat-alat industri yang memungkinkan para buruh menghasilkan produk lebih banyak dengan jumlah kerja yang sama. RTT ini diberikan tergantung oleh perusahaan, jadi tak wajib. Jadi kalau di Perancis ini, jumlah jam kerja legal sejak tahun 2000 yaitu 35 jam per minggu. Perusahaan punya 2 pilihan: membatasi jumlah jam kerja para pegawainya maksimum 35 jam per minggu, atau menaikkan jumlah kerja > 35 jam dengan syarat memberikan jatah RTT atau bisa juga dengan memberikan duit lembur. Jumah RTT ini bervariasi sekali. Di perusahaan gw, 8 hari /tahun. Namun ada perusahaan yang memberikan RTT 20 hari / tahun.

Enak betul ya jatah cuti bisa dari 30 – 45 hari per tahun sudah kayak anak sekolahan saja. Orang Perancis sendiri sangat hobi merencanakan kalendernya jauh-jauh hari kalau perlu untuk setahun ke depan. Makanya mereka aneh sekali lihat orang seperti gw yang bisa tiba-tiba minta cuti buat hari esok, atau merencanakan liburan ke luar negeri seminggu sebelumnya, dll. Pada dasarnya asosiasi ketenaga-kerjaan di Perancis ini sedemikian kuatnya sehingga para bos pun tak berhak melarang kita-kita mengambil cuti walau terkadang musti tahu diri. Gak lagi-lagi deh minta cuti sehari sebelum :-D.

Google it yourself, please! -mari bertanya kritis

Ada satu attitude yang akan sangat bermanfaat sekali ketika kita berada di luar negeri khususnya negara maju yang individualis. Tentunya akan sangat baik sekali kalau kita-kita yang berencana kuliah di luar Indonesia bisa mengadopsi mental agar istilahnya gak sedikit-sedikit minta disuapin dan bertanya secara kritis.

Bertanya secara kritis disini merupakan bertanya ketika kita sudah mencari dan membaca seluruh informasi yang sebenernya sangat gampang sekali kalo kita mau googling sebentar saja. Pertanyaan-pertanyaan dasar seperti cara pendaftaran, biaya ini itu, sistem pendidikan, cari universitas, dll sebenernya jawabannya sudah ada dimana-dimana, dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang sebetulnya gak perlu ditanyakan.

Teman-teman yang sudah di luar negeri sih sebenernya tidak keberatan untuk membantu adik-adik yang butuh bantuan atau klarifikasi, membimbing kalau ragu dengan beberapa pilihan untuk tahu mana yang lebih tepat sesuai yang sebenernya dicari. Disinilah kita sama-sama belajar untuk membedakan mana yang layak ditanyakan atau tidak. Ini juga itung-itung latihan beradaptasi dengan orang-orang di negara maju yang pastinya jauh lebih merasa *annoyed dengan orang-orang yang malas googling dan sedikit-sedikit minta dikasihtau ehehe.

Yuk ah jadikan bertanya sebagai senjata terakhir setelah research sebanyak-banyaknya!