Terinspirasi dari postingan seorang teman, Yang Terabaikan ..
Untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, kita tidak bisa hanya berdiri di atas daratan dan berteriak-teriak minta tolong. Melainkan, kita harus terjun ke air dan menarik orangnya. Jika dia meronta-ronta karena panik, kasari sampai dia tidak sadar atau lemah sehingga kita bisa lebih leluasa untuk menariknya ke atas.
Salah satu prinsip yang saya pegang. Di dunia nyata.
Terhadap teman yang ‘terjerumus’, terhadap komunitas yang ‘terpuruk’ dan terhadap kondisi yang ‘mengkhawatirkan’, tidak seharusnya kita mencaci menghujat menghakimi, terdiam apatis, berdiri memandang menatap saja, berteriak minta-tolong.
Melainkan masuk sistem dan berkontribusi, lakukan sesuatu untuk perubahan serta memberikan tamparan keras untuk kebaikan akan mengingatkan. Juga karena orang yang ingin masuk surga sendirian tidak akan masuk surga.
Tapi benarkah untuk masuk surga kita harus ‘mencicipi’ neraka dahulu? Karena ketika prinsip itu diimplementasikan, mau tidak mau kita harus ikut basah, mau tidak mau menjadi kotor dahulu dan jika berhasil dapat keluar untuk membersihkan. Jika ternyata tidak kuat melawan pusaran, terseretlah sejauh-jauhnya.
Tapi makin hari, ternyata prinsip itu makin lekang oleh waktu.
Makin merasa tidak sanggup lagi berperan seperti itu. Entah kenapa.
Mungkin karena semakin hari, arus yang mengalir makin kuat dan tajam sehingga diri ini tak lagi yakin apakah bisa bertahan melawan arah arus.
Mungkin juga karena diri ini makin apatis dan tidak perduli lagi dengan lingkungan. Hanya menjaga supaya diri tetap terjaga selamat aman dan baik-baik saja. Bukan lelah, tetapi egois. Tidak juga berusaha dan berikhtiar melainkan melupakan.
Atau mungkin jangan-jangan diri ini tidak merasa kalau juga sedang terseret. Merasa santai dan bergembira biasa saja terbawa arus yang melenakan tanpa sadar dibawah sedang ditunggu oleh jerat-jerat tajam serta kerasnya karang dan bebatuan.






April 3, 2008 at 1:06 pm |
itu perasaan gw banget tuh! karena ngerasa udah kayak terkoyak2 sama keadaan.
tapi tetep, klo mo berpikiran ideal, seharusnya gak kayak gitu. klo emang diri ini dah ngerasa gak sanggup, kita bisa sejenak keluar dari kubangan lumpur yang merepotkan. sejenak aja, sekedar ngasih kesempatan diri sendiri buat bernapas. kayak nyelamatin orang yang tenggelem, kan gak harus kita ikut tenggelam. harus juga tarik napas biar gak ikutan tenggelam.
mari berjuang! seenggaknya ada perjuangan lewat tulisan. demi kebaikan ’semua’nya. dan yang harus terus diinget –menurut gw lho ya– ’semua’ itu termasuk diri kita sendiri juga