Baru menemukan situs yang bisa mengecek kehalalan makanan. Mungkin bermanfaat bagi yang pada belum tau. Ini link-nya: Cek info produk halal. Selain itu, disini juga bisa tau sertifikasinya berlaku sampai kapan.

Baru-baru ini diajak oleh teman untuk makan di salah satu restoran Jepang, sushi tei. Teringat kalau jarang sekali restoran Jepang yang punya sertifikat halal, maka niat deh nyari-nyari dulu ni tempat halal atau gak. Bumbu makanan Jepang biasanya berasal dari sake, mirin. Ternyata memang belom ada sertifikat halalnya. Dari data yang dicari ternyata memang belum ada satupun restoran Jepang yang memiliki sertifikat halal. Atau mungkin ada?

Setelah sekian lama (beberapa hari) magang di PAU. Dimana setiah hari setiap saat ada waktu pak Trio selalu menghampiri para magang-ers untuk menanyakan progress perkembangan, hari ini setelah mengobrol dan brainstorming sekian lama, pak Trio akhirnya menanyakan…

Bagaimana, anda senang atau tidak mengerjakan hal ini?

Teringat setelah sekian lama beraktifitas di kampus ITB… beraktifitas di organisasi, tak pernah atasan/kadiv saya menanyakan ‘apakah saya senang atau tidak mengerjakan apa yang saya kerjakan’.. apalagi dosen pembimbing TA… :D Kenapa sering telat, ngaret, deadliners, malas, dan sebagainya.. Mungkin memang karena kita tidak menyukai hal-hal yang sedang dikerjakan…

Walaupun simple tapi mengena, inti dari sebuah komitmen terletak dari apakah anda senang mengerjakan apa yang anda kerjakan.. Setidaknya setelah ini saya jadi lebih terpacu untuk memberikan dedikasi yang lebih baik daripada sebelumnya.. tentunya dimulai dengan tidak telat datang.. :))
 

Terimakasih pada teman-teman yang telah mendoakan dan mengingat hari kelahiran saya ini… :-)

Terutama buat 10 orang pertama yang mengucapkan…^_^

Iwa * Adi * Dito * Tya * Epid * Mama * Leni * Papa * Adek Mira * Fitri

Semoga doa yang dikirimkan dikabulkan.. :-) Tentunya sekarang saya sudah dewasa (alias memasuki kepala 2 :D )

 

 Pastinya hal ini cukup sering terjadi di kos-kosan. Mulai dari kosan sederhana sampai yang mahal. Ternyata tak hanya di kosan sendiri, tapi di kosan temen-temen juga banyak. :D Setelah ditilik-tilik, berbagai kasus kehilangan ini disebabkan karena…

  1. Memang tertukar dengan teman kosan [yang ini sih gak masalah]
  2. Di suatu kos-kosan teman di Imam bonjol, hal itu terjadi karena ada salah seorang anak kos-kosan yang senang memakai jaket untuk menutupi baju-baju yang dia ambil.. Walhasil, teman saya tidak pernah mencuci baju-bajunya yang lumayan bagus.. Motif si pengambil baju tampaknya karena ingin menggunakan baju2 yang bagus.. :D
  3. Di suatu kos-kosan teman di Cisitu, yang terjadi sama dengan nomor2. Terkadang, baju yang telah hilang sebulan ditemukan kembali. Setelah banyak kasus terjadi, akhirnya satu kos-kosan kompak melapor kepada bapak kosan untuk menggeledah lemari ‘yang dicurigai’ ketika ‘dia’ sedang pergi. Dan akhirnya semua baju kembali kepada sang pemilik..
  4. Nah, yang ini dikosan gua sekarang.. Ternyata, salah satu teman kosan melihat baju2nya yang hilang dipakai oleh salah satu pembantu yang mencuci baju2 kami. Wow!! Tak diduga. Padahal selama ini kalau ada baju sendiri yang hilang, memang dikira karena tertukar. Ibu kosan juga udah menyuruh cross-check dulu ke tiap anak kosan. Tapi, feeling mengatakan memang tak tertukar. Karena lama banget gak dibalikin ke lemari cucian. Sembari menanyakan ke teman2 kosan dan berencana untuk melapor kembali ke ibu kosan. Tapi entah kapan.

Yang ini, rada bingung motifnya.. Secara si pembantu udah berumur kira2 40awal, dan baju2 yang diambil rasanya sulit dibayangkan akan dipakai oleh ‘dia’. Bingung juga sebenernya mau diapakan baju2 yang diambil. Mungkin dijual ke Gede Bage kali yah.. Total baju kehilangan sampai saat ini yang diketahui juga udah lumayan banyak ( >20an). Jadi, kita musti ngapain? Apakah baju2 kami bisa kembali? [rada ragu :( ]. Kita tunggu saja berita selanjutnya…

Ini topik yang paling hangat di milis civitas…¤Do we really need to discuss that? ¤

Membahasnya rada melelahkan gak sih? Hanya membuat sakit hati pihak jujur dan makin membuat pihak pencontek meraja-lela. :D Buat saya, hanya ingin mengambil pelajaran dari kasus-kasus yang terjadi. Dari pengamatan, menyontek dilakukan oleh sebagian besar anak-anak orang kaya. Tidak bermaksud men-generalisir semuanya. Tapi kenapa ya, saya belum pernah melihat tuh, anak orang-orang tidak mampu atau yang kehidupannya penuh susah payah perjuangan yang mencontek. :D

Jadi salah satu pertimbangan bagaimana mendidik anak nantinya. :) Hidup nyaman terkadang memang kurang menjamin…

 

Terinspirasi dari postingan seorang teman, Yang Terabaikan ..

Untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, kita tidak bisa hanya berdiri di atas daratan dan berteriak-teriak minta tolong. Melainkan, kita harus terjun ke air dan menarik orangnya. Jika dia meronta-ronta karena panik, kasari sampai dia tidak sadar atau lemah sehingga kita bisa lebih leluasa untuk menariknya ke atas.

 

Salah satu prinsip yang saya pegang. Di dunia nyata.

Terhadap teman yang ‘terjerumus’, terhadap komunitas yang ‘terpuruk’ dan terhadap kondisi yang ‘mengkhawatirkan’, tidak seharusnya kita mencaci menghujat menghakimi, terdiam apatis, berdiri memandang menatap saja, berteriak minta-tolong.

Melainkan masuk sistem dan berkontribusi, lakukan sesuatu untuk perubahan serta memberikan tamparan keras untuk kebaikan akan mengingatkan. Juga karena orang yang ingin masuk surga sendirian tidak akan masuk surga.

 

Tapi benarkah untuk masuk surga kita harus ‘mencicipi’ neraka dahulu? Karena ketika prinsip itu diimplementasikan, mau tidak mau kita harus ikut basah, mau tidak mau menjadi kotor dahulu dan jika berhasil dapat keluar untuk membersihkan. Jika ternyata tidak kuat melawan pusaran, terseretlah sejauh-jauhnya.

 

(more…)

Setelah dihantui oleh kenaikan harga kosan. Ingin mencari kosan baru yang harganya lebih murah, tetapi rata-rata murahnya hanya beda-beda tipis..  :-(

 

Bandung, apalagi di daerah Dago, pusat perkuliahan, ITB, UNPAD, ITHB, UNIKOM, dll. Begitu banyak universitas tetapi entah kenapa harga kosan malah pada melambung. Semakin dekat ke kampus, semakin mahal, jauh dari kampus pun, tetep mahal.. -__-’ Bahkan kosan wanita pun, harga termurah (dengan tempat cukup layak dan nyaman untuk belajar), paling murah adalah sekitar 400ribuan. Belum menunjang kebutuhan ber-internet tentunya.

 

Ternyata meningkatnya tingkat komersialitas pendidikan juga membuat meningkatnya kekomersialitas ibu-ibu kos-kosan. Mungkin juga karena Bandung juga dibentuk sebagai kota perbelanjaan alias kota-kota gaul yang konsumtif. Seperti kosanku, baru dinaikkan 100ribu rupiah tanpa alasan apapun. -__-’ Padahal listrik, air, dan lain-lain juga gak naik. Ingin pindah lagi tetapi udah nanggung. Apa kata dunia, kuliah cuma 4 taun, pindah kosan lebih dari 4 kali. Yah, pasrah saja lah….

Mengenai kuliah, dikejar kebingungan tujuan…

Mengenai masa depan, dihantui ketidakpastian…

Mengenai hidup, ada sejuta persepsi akan makna…

Mengenai akhirat, terjebak kegelisahan setiap saat…

Untuk Tuhan, ada beribu pertanyaan… ♥

 

Sebelum kontrak hidup di dunia habis segera…

Mengenai semua hal, harus kutentukan jawaban…

 

bagaimana dengan anda…

Khususnya di Bandung ini, di daerah Dago aja udah ada puluhan bahkan ratusan pengamen dan pengemis. Kalau difikir-fikir, apa ya bedanya pengamen dan pengemis ?

 

Pengemis -> meminta-minta dengan mengiba-iba..

Pengamen -> bernyanyi..

Buat kasus pengamen, dengan kata lain mereka melakukan pekerjaan secara sukarela. Istilahnya, tidak diinginkan oleh sang pendengar yang dimintai uang.

Nah, orang-orang yang memberikan uang kepada sang pengamen ataupun pengemis ini biasanya berdasar kepada:

  • Rasa kasihan
  • Biar cepat-cepat selesai lalu pergi dan gak mengganggu lagi
  • Untuk pengamen, sebagai bentuk penghargaan karena senang mendengarkan lagu yang dinyanyikan (yang ini persentase kejadiannya kecil sekali)

 

Nah, kalau begitu, bukannya pengamen = pengemis yah.. Karena terkadang di masyarakat menempatkan pengamen lebih mulia (karena “terlihat seperti bekerja”) dibanding pengemis. Jadi, bedanya pengamen dan pengemis itu apa ya? Perasaan tujuannya sama deh..  :-? Adakah yang bisa kita lakukan untuk mereka…

Memulai hari yang baru, mengevaluasi hari-hari yang telah dilewati, memandang kembali visi-visi, memetakan misi-misi, menyemangati diri akan resolusi dan tujuan hidup, menafakuri karunia Tuhanku, mengingat masa-masa yang tak mungkin kembali, menyadari berapa lama sisa waktu…

 

Beberapa bulan yang lalu gw memahami…bahwa…

 

  • proses definitely menentukan hasil akhir
  • kejadian demi kejadian tidak menentukan hasil akhir
  • usaha selalu membuahkan hasil
  • kejujuran dan keikhlasan selalu menghasilkan buah yang manis
  • aku sendiri yang menentukan awal, perjalanan dan akhir nasibku
  • help others by help yourself
  • semakin banyak memberi, semakin banyak menerima
  • keinginan untuk mengembalikan waktu untuk mencegah penyesalan di masa kini, kelak diri tidak akan melakukan hal yang lebih baik…yang terpenting apa yang dapat dilakukan sekarang untuk mengubah masa depan

Selamat datang hari-hari baru ku…

Dengan ini berharap kelak di kemudian hari tidak akan mengulangi kesalahan…

Selamat tinggal masa lalu…

Kelak tidak akan kulupakan namun kujadikan pelajaran agar tak menyesal di kemudian hari…

Next Page »